kultur jaringan tanaman

BAHAN SEMINAR USUL PENELITIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

 

Judul Penelitian            : Pengaruh Berbagai Konsentrasi Air Kelapa Dan Arang Aktif Pada Media ½ MS Terhadap Pembesaran Protokorm Anggrek Dendrobium In Vitro

         

Nama                          : Maiyulis

NPM                            : 0814013036

Pembimbing                : 1. Ir. Sri Ramadiana, M.Si

                                      2. Dr. Ir. Yusnita, M.Sc

Pembahas                   : Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc

Hari/ Tanggal             : Kamis/ 5 Januari 2012

 

  1. I.                   PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Anggrek merupakan tanaman hias yang tergolong ke dalam famili Orchidaceae yang tumbuh secara epifit atau menempel pada batang tanaman tanpa merugikan tanaman induknya (Gunawan, 2005). Keluarga anggrek termasuk kerajaan tumbuhan terbesar yaitu sekitar 750 jenis yang berbeda dengan sedikitnya 25.000 jenis asli (spesies) dan lebih dari 30.000 cultivar hibrida hasil persilangan (Hew dan Yong, 2008).  Kamemoto, et. al.(2004), Dendrobium meliputi 1000 spesies berasal dari kaki gunung Himalaya menyebar melalui Asia Tenggara ke Jepang, Australia, Tasmania, dan kepulauan Pasifik. 

Dendrobium merupakan salah satu dari jenis anggrek yang banyak dibudidayakan di Indonesia dengan tipe bunga yang menarik dengan warna yang beragam. Penampilan bunga anggrek yang cantik dan elegan serta bentuknya yang unik dan indah membuat anggrek merupakan lambang keanggunan. Keindahan bunganya sangat cocok untuk menghiasi ruangan di perkantoran, hotel, restaurant dan rumah tinggal. Selain menghiasi ruangan anggrek biasanya digunakan sebagai hadiah ulang tahun, wisuda, hari pernikahan dan hari istimewa lainnya yang dirangkai sebagai parsel ataupun bunga pot.

 

Permintaan anggrek Dendrobium hibrida meningkat di setiap tahunnya. Menurut BPS (2010), produksi anggrek di Indonesia pada tahun 2010 sebanyak 14.050.445/tangkai.  Produksi tanaman anggrek di Propinsi Lampung tahun 2009 mencapai 206.954/ tangkai meningkat menjadi 219.669 ditahun 2010. 

Hartmann, et. al, (2002), namun, anggrek memiliki biji dengan ukuran sangat kecil dan tanpa adanya cadangan makanan. Yusnita (2010), ketidak adanya cadangan makanan pada biji anggrek membuat anggrek sangat sulit berkecambah di lingkungan alami dengan kondisi normal. 

Kultur jaringan merupakan salah satu cara untuk menumbuh kembangkan biji anggrek in vitro secara aseptik. Menurut Hew dan Yong (2008), mengecambahkan anggrek dengan tissue culture menguntungkan secara ekonomi dengan jumlah yang banyak dalam waktu yang singkat dibandingkan penanaman secara konvensional yang membutuhkan waktu yang lama dan mahal. 

Murashige and Skoog, (1996), menambahkan dari beberapa media yang digunakan media dasar MS adalah media yang sering digunakan. Namun, bahan-bahan untuk membuat media dasar MS sangat mahal untuk perbanyakan anggrek secara in vitro. Sehingga, terdapat alternatif lain untuk menghemat pengunaan media dasar MS yaitu dengan mengunakan ½ dari larutan stok MS yang disebut dengan media dasar ½ MS. 

Pembuatan media diperlukan adenda yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.  Yusnita (2010), untuk memperoleh perkecambahan biji yang tinggi dan pertumbuhan protokorm yang lebih baik, semua formulasi media dasar diperkaya dengan 150 ml/l air kelapa. 

Arang aktif (activated charcoal) juga sering digunakan untuk menggelapkan media kultur.  Penambahan arang pada media kultur dapat meningkatkan pertumbuhan plantlet dan arang aktif dapat menyerap etilen yang dapat menghalangi pembelahan dan pertumbuhan planlet (Arditti dan Ernst, 1993).  Yusnita (2010), menambahkan pengunaan arang aktif pada media dasar dapat meningkatkan pertumbuhan protokorm.  Sehingga, dengan pemberian arang aktif dapat meningkatkan pertumbuhan protokorm anggrek Dendrobium menjadi seedling

 

Rumusan Masalah

 

  1. Apakah terdapat pengaruh pemberian arang aktif terhadap pembesaran   

     protokorm anggrek Dendrobium.

  1. Apakah terdapat pengaruh penambahan berbagai konsentrasi air kelapa

  ( 0, 50, 100, 200 ml ) terhadap pembesaran protokorm anggrek     

  Dendrobium.

  1. Apakah terdapat interaksi antara pemberian arang aktif dan berbagai konsentrasi air kelapa ( 0, 50, 100,200 ml ) terhadap pembesaran protokorm 

   anggrek Dendrobium.

 

1.2              Tujuan Penelitian

 

Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk :

  1. Mengetahui pengaruh arang aktif terhadap pembesaran protokorm  anggrek

     Dendrobium.

  1. Mengetahui pengaruh penambahan berbagai konsentrasi air kelapa 

   ( 0, 50, 100, 200 ml ) terhadap pembesaran protokorm anggrek Dendrobium

3.   Mengetahui interaksi antara pemberian arang aktif dan berbagai konsentrasi air   

      kelapa ( 0, 50, 100,200 ml ) terhadap pembesaran protokorm 

   anggrek Dendrobium.

 

1.3 Landasan Teori

 

Bunga anggrek setelah penyerbukan, indung telur akan berkembang ke dalam kapsul buah yang terdapat berjuta- juta benih yang berukuran sangat kecil yang terdiri dari massa sel yang dipisahkan oleh mantel benih (Hew dan Yong, 2008). Jutaan biji anggrek yang tidak mempunyai kotiledon dan endosperm, sehingga sulit berkecambah dalam keadaan alami yang normal (Yusnita, 2010). 

Sistem kultur in vitro atau tissue culture merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan biji anggrek yang sulit berkecambah.  Tissue culture itu adalah menumbuhkan jaringan atau organ tanaman secara aseptic dimana diberikan nutrisi dan hormon pertumbuhan tanamannya yang dapat dikendalikan (Hartmann, et. al., 2002). 

Tissue culture itu sendiri diawali dengan teori sel postulated 1838 oleh Matthias Schleiden dan Theodor Schwann yang meneorikan bahwa sel tanaman di dasari oleh teori totipotent.  Teori totipotency yaitu konsep dimana satu sel dengan membawa program genetik akan tumbuh menjadi tanaman yang sempurna (Hartmann, et. al., 2002).  Yusnita (2010), dalam kultur embrio atau biji anggrek in vitro, biji anggrek dikecambahkan menjadi protokorm dalam suatu media agar-agar yang aseptik.

 

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek sangat dipengaruhi oleh media, menurut Widiastoety et al.(2005), beberapa media yang digunakan untuk perbanyakan anggrek adalah Knudson ‘C’ (Knudson, 1946), Wimber (Wimber, 1963) atau Fonnesbech (Fonnesbech, 1972) atau media MS (Murashige and Skoog, 1962).

Media dasar MS adalah media yang sering digunakan pada kultur jaringan (Murashige and Skoog, 1996).  Gunawan (1988), dalam media Murashige dan Skoog menonjol dengan mengandung 40 mM Nitrogen dalam bentuk NO3 dan 29 mM dalam bentuk NH4.  Kandungan N ini lima kali lebih tinggi dari Nitrogen total yang terdapat pada media lain.  Sedangkan Kalium sampai 20 mM dan Pospat 1,25 mM.  Unsur mikro juga lebih tinggi dari media lain. 

Indani (2007), selain itu, pengunaan media ½ MS (1962) berpengaruh baik pada pembesaran protokorm anggrek Dendrobium hibrida dengan menghasilkan panjang akar tertinggi 1,1 cm dibandingkan media dasar GrowMore dan Hiponex.  Indrawati (2008), menambahkan, media dasar ½ MS merupakan media dasar terbaik dalam menghasilkan pertumbuhan protokorm dibandingkan media Vacin and Went dan Hiponex. 

Selain media dasar, diperlukan adenda sebagai bahan tambahan.  Menurut Arditti dan Ernst (1992), cairan air kelapa yang masih muda adalah komponen yang efektif untuk media kultur jaringan yang dapat meningkatkan pertumbuhan sel, organ, jaringan ataupun seedling anggrek in vitro.  Seswita (2010), air kelapa digunakan untuk perbanyakan in vitro tanaman hias misalnya anggrek karena mengandung zat pengatur tumbuh alami yaitu sitokinin. 

Arditti dan Ernst (1992), menambahkan air kelapa mengandung ion anorganik (chlorine, cooper, iron, magnesium, phosphorus, potassium, sodium, sulfur), komponen nitrogen (thanolamine dan ammonia), amino acids and related substances, enzim, asam organik.  Selain itu, air kelapa juga mengandung gula antara 1,7 – 2,6 %dan protein 0,07 – 0,55 %.  Selain kaya mineral, air kelapa juga mengandung bermacam-macam vitamin seperti asam sitrat, asam nikotinat, asam pantotenat, asam folat, niasin, riboflavin, dan tiamin. 

Pengunaan air kelapa yang efektif untuk media yaitu sekitar 10 – 15 % dari volume medianya dan konsentrasi yang paling tinggi yaitu 20 % air kelapa untuk media (George, 2008). 

Arang aktif (activated charcoal) juga sering digunakan pada media kultur.  Arditti dan Ernst (1993), pengaruh arang aktif pada perkecambahan digunakan untuk menyerap senyawa penghambat seperti ethylene, phenolics dan carboxylic yang bersifat toksik yang dapat menghambat pertumbuhan.  Arang aktif juga berfungsi menggelapkan warna media sehingga meningkatkan aerasi dan pengakarannya masuk ke dalam media

Menurut Gunawan (1988), arang aktif mengadsorpsi senyawa-senyawa toksik yang terdapat pada media seperti persenyawaan fenolik dan persenyawaan 5-hidroksimetil fulfural yang diduga terbentuk dari gula yang berada dalam larutan asam lemah dan mengalami pemanasan dengan tekanan tinggi.  Arang aktif yang dianjurkan digunakan dengan konsentrasi 0,5 – 6 %. 

1.4    Kerangka Pemikiran

 

1.5  Hipotesis

 

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan disimpulkan hipotesis sebagai berikut:

  1. Pemberian arang aktif dapat memacu pembesaran protokorm anggrek

   Dendrobium.

  1. Terdapat pengaruh penambahan berbagai konsentrasi air kelapa ( 0,50,100, dan   

      200 ml ) terhadap pembesaran protokorm anggrek Dendrobium.

  1. Terdapat interaksi antara dengan pemberian arang aktif dan berbagai konsentrasi

      air kelapa ( 0ml,50ml,100ml,200ml ) terhadap pembesaran protokorm

      anggrek Dendrobium.

 

  1. II.                BAHAN DAN METODE

2.1    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung mulai bulan Oktober 2011 hingga Februari 2012.

2.2    Bahan dan Alat

Bahan tanam yang digunakan adalah eksplan anggrek Dendrobium sp yang telah dikecambahkan. Sedangkan alat yang digunakan botol kultur, petridish, alat-alat disekti seperti gunting, pinset, spatula, skaple, dan alat-alat gelas lainnya.

2.3    Metode Penelitian

Rancangan perlakuan disusun secara faktorial (2×4). Faktor pertama adalah adalah media dasar (½ MS 0 (A1), 50 (A2), 100 (A3),dan 200 ml air kelapa (A4)).  Faktor kedua pengunaan arang aktif (mengunakan arang aktif (A1) dan tidak mengunakan arang aktif (A2)) dalam rancangan teracak sempurna (RTS). Homogenitas ragam antar perlakuan diuji dengan Uji Barlett dan PNT menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf alpha 5%.

2.4    Pelaksanaan Penelitian

2.4.1        Sterilisasi alat

Botol kultur, petridish, alat-alat disekti seperti gunting, pinset, spatula, skaple, dan alat-alat gelas lainnya dicuci terlebih dahulu lalu disterilisasi menggunakan autoklaf selama 30 menit pada tekanan 1,5 kg/cm2 dengan suhu 1200C.

2.4.2        Media Perlakuakn

Media dasar ½ MS dimasukkan ke dalam bieker Glass berisi aquades lalu ditambahkan  gula sebanyak 20 g/l dan air kelapa 0,50,100, dan200ml, lalu ditera hingga satu liter. Kemudian di pH hingga 5,8. Pada media yang diberi arang aktif, waktu pemberiannya bersamaan saat mencampurkan agar-agar sebanyak 7 g/l, lalu media dimasak hingga mendidih selama 10 menit lalu dimasukkan ke dalam botol-botol kultur sebanyak 20 ml/botol, lalu tutup dengan plastik dan ikat dengan karet gelang.  Botol-botol berisi media tersebut kemudian diautoklaf dengan tekanan 1,2 kg/cm2 dengan suhu 1200C selama 15 menit.

2.4.3        Eksplan

Eksplan yang digunakan adalah protokorm anggrek Dendrobium yang berasal dari pengecambahan protokrom dari persilangan P2 selfing.

2.4.4        Pengamatan

  1. Tinggi tanaman (cm)
  2. Jumlah daun (helai)
  3. Jumlah akar (akar)
  4. Panjang akar (cm)
  5. Bobot basah (gram)
  6. Foto
By maiyulis

KULTUR JARINGAN

kultur jaringan adalah menumbuh kembangkan sel, jaringan, organ tanaman dengan cara septik dengan nutrisi dan kondisi lingkungan yang dapat di pengaruhi.

By maiyulis Tagged

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

By maiyulis